Senin, 23 Februari 2009

BERORGANISASI ‘SEBUAH UTOPIA’

Jika diibaratkan kita sedang berlayar ditengah lautan kemudian diombang- ambingkan oleh debur ombak dan badai, sementara kompas yang menjadi satu- satunya penunjuk arah rusak, maka kita akan terombang- ambing tanpa tahu kemana kita berjalan dan dimana kita akan berhenti. Bahkan lebih parah dari itu, kita akan ditelan air laut dan tubuh kita terkoyak oleh liarnya dunia bawah laut.

Begitu juga dengan organisasi, ketika organisasi tidak mempunyai tujuan yang jelas dan strategi yang tepat, kita akan terjebak pada rutinitas sehingga organisasi akan mengalami stagnasi/ kejumudan gerakan. Bukannya karya yang akan kita dapatkan, tapi lelah, capek, dan kebingungan yang akan kita rasakan. Tentunya teman- teman tidak mau kalau ini semua terjadi.

44 tahun (1964- 2008) bukan waktu yang sebentar bagi perjalanan sebuah organisasi, berbagai macam gejolak problematika dan dinamika pasti pernah dirasakan. Tapi adakah jaminan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari itu semua? Adakah perubahan yang terjadi dalam kepemimpinan kita? Ataukah kita hanya sebagai ahli waris yang cuma bisa meneruskan, tapi tidak bisa berbuat lebih baik?

Pengalaman adalah guru terbaik, dan terjatuh pada lubang yang sama adalah perbuatan yang bodoh. Jika kita peka dengan keadaan, sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari rutinitas pergantian kepemimpinan beserta model kepemimpinan yang mengiringinya. Jika berhasil maka kita tiru dan kembangkan, tapi jika gagal, strategi apa yang harus kita benahi dan kita rubah.

Jika kita tidak mau tergelincir pada lobang yang sama, maka kita perlu melakukan identifikasi dan menentukan solusi yang tepat sasaran.

Setidaknya ada lima masalah yang bisa menghambat kemajuan organisasi.

1. Kekurang pahaman anggota terhadap ideologi muhammadiyah.

2. Militansi kader.

3. Program yang tidak fungsional/ tidak sesuai dengan need assessment.

4. Ukhuwah/ hubungan emosinal yang rendah.

5. Kaderisasi.

Untuk itu ada 5 (lima) permasalahan yang harus kita garap:

1. Penanaman ideology.

2. Menumbuhkan Militansi kader.

3. Mengeratkan ukhuwah.

4. Menumbuhkan kesadaran pentingnya intelektualitas.

5. Kaderisasi yang bisa menanamkan rasa memiliki terhadap IMM.

Dari pemaparan diatas, saya merumuskan visi dan misi:

VISI :

Membangun kader IMM yang berideologi, militan dan berpengatahuan yang dilandasi rasa ukhuwah antarkader dengan semangat iman dan taqwa

MISI :

1. Peneguhan ideologi dalam diri kader

2. Membangun militansi kader

3. Meningkatkan ukhuwah antar kader

4. Mengembangkan ilmu pengetahuan

5. Menciptakan kader yang memiliki integritas intelektual dan moral

Tanggapan teman- teman terhadap masalah ini?

Solusi dari teman- teman?

AGAMA

A. Definisi Agama

Para ahli sejarah agama-agama sedunia sependapat bahwa yang dimaksud dengan agam adalah salah satu bentuk upacara dari suatu kepercayaan dengan menggunakan cara dan bahasa yang tidak sama. Namun demikian, apa yang dijabarkan oleh para ahli sejarah tersebut masih dapat ditinjau dari segi etimologi dan terminologinya.

Secara etimologis agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang terdiri atas dua kata: “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau atau berantakan. Agama adalah suatu yang tidak kacau. Dengan kata lain bahwa agama itu membawa hidup yang teratur dan terarah.

Dalam bahasa Inggris agama disebut “religion” yang berasal dari bahasa Latin yang berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian. Perbuatan yang dimaksud dimaksud di sini adalah berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mendekati sesuatu yang ghaib. Ada yang berpendapat bahwa “religion” berasal dari kata “religare” yang berarti mengikat menjadi satu atau perikatan bersama. Agama dalam hal ini merupakan ikatan orang-orang suci yang bebas dari dosa atau berusaha untuk membebaskan diri dari dosa.[1]

B. Macam-Macam Agama

Agama dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu agama samawiyah (agama langit atau agama wahyu) dan agama ardhiyah (agama bumi atau agama budaya). Agama samawiyah disebut juga sebagai agama tauhid, yang berasal dari kata wahhada yang berarti menganggap satu. Agama Samawiyah merupakan agama yang pertama di dunia yang di bawa oleh Nabi Adam AS sampai yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama Samawiyah yang dibawa ole semua nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad muatan pesan ajarannya sama, yakni Tauhid. Tauhid adalah ajaran yang mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan dasar hukum yang bersumberkan kepada wahyu Allah SWT.

Agama Ardhiyah ialah agama bumi atau agama budaya. Agama ini disebut Ardhiyah karena semua konsep ajarannya dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Oleh karena itu, walaupun nama agamanya sama tetapi dalam pelaksanaan ritualnya berbeda, karena disesuaikan dengan budaya setempat. Agama Ardhiyah tidak memiliki nabi atau rasul sebagaimana agama Samawiyah, dan tidak memiliki kitab suci yang murni. Kitab suci yang ada hanyalah susunan dari para pemimpin atau pendiri agama tersebut yang dari waktu ke waktu akan berubah seiring dengan perkembangan waktu dan budaya.[2]

C. Tujuan atau Alasan Manusia Harus Beragama

1. Tujuan Hidup

Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kamu sekalian secara sia-sia?”(Qc. Al-Furqan: 115). Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap penciptaan pasti ada konsekuensinya. Tegasnya, ada akibat lanjut dari kehidupan ini. Sebenarnya manusia ketika lahir itu diberi kekuasaan atau kebebasan dalam memilih jalan hidupnya, ada jalan yang benar adapula jalan yang salah tergantung pilihan kita ada di mana, begitupula dengan agama. Oleh karena itu, manusia harus mempunyai agama supaya manusia itu mempunyai tujuan dan hidupnya itu terarah tidak seenaknya saja.

2. Akhir Segalanya

Karl Marx anak seorang rahib Yahudi yang kemudian terkenal menjadi pemuka kaum Atheis. Sepanjang hidupnya, ia selalu berusaha menghapus nama Tuhan dari kehidupan manusia. Namun, tatkala dalam keadaan sekarat dan ajal hamper menjemputnya, ia menjerit-jerit menyebut nama Tuhan. Suatu kontras kehidupan yang membuat kesadaran tentang Tuhan bukan lagi permainan logika, bukan pula karena kebutuhan ekonomi, dan kecerdasan politik, melainkan sebuah fitrah manusia terhadap kehidupan itu sendiri.[3]

Dari cerita di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa setelah hidup ini ada kelanjutannya, bahkan Karl Marx yang begitu tidak mengakui adanya Tuhan ketika ajal akan menjemputnya dia menyebut-nyebut nama Tuhan, karena setelah kematian itu masih ada kehidupan maka, kita harus mempersiapkannya dari sekarang.

D. Kodrat Manusia Beragama

Inti dari beragama itu adalah keyakinan atau kepercayaan akan adanya Zat Yang Ghai, Zat Yang Maha Besar, yang KepadaNya manusia menggantungkan diri mohon pertolongan. Adapun fenomena yang akan membuktikan bahwa naluri manusia atau kodrat manusia itu beragama adalah:

1. Tentang doa keselamatan

Setiap orang pasti ingin mendapatkan keselamatan. Ia merasa dirinya selalu terancam. Makin serius ancamannya, doanya akan makin serius pula.

2. Tentang kebahagiaan abadi

Setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang ia harapkan bukanlah kebahagiaan yang sementara tetapi kebahagiaan abadi.

3. Apaila kita mendapatkan persoalan yang dilematis

Orang hidup itu seringkali dihadapkan kepada beragai perbuatan yang harus dipilih. Dia memeras otak, mempertimbangkan untung rugi, dan aspek-aspek lain yang akhirnya dapat menentukan keputusannya.[4]

Dari semua masalah di atas menunjukkan bahwa manusia secara naluriah membutuhkan agama dan adanya kepercayaan adanya Zat Yanag Ghaib.

E. Gambaran Manusia Beragama

Gambaran pokok manusia beragama adalah penyerahan diri. Ia menyerahkan diri kepada sesuatu yang Maha Ghaib lagi Maha Agung. Ia tunduk dan patuh dengan rasa hormat dan khidmat. Ia berdoa, bersembahyang, dan berpuasa sebagai hubungan vertical(hablumminallah) dan juga berbuat suatu kebaikan untuk kepentingan sesame umat manusia(hablumminannas), karena ia percaya bahwa semua itu diperintahkan oleh Zat Yang Maha Ghaib.

Penyerahan diri manusia itu bersifat bebas dan merdeka. Dengan rasa kesadaran dan kemerdekaan ia memeluk agama dan menjalankan peraturan-peraturan yang ia anggap dari Zat Yang Maha Ghaib itu. Dia merdeka bukan berarti ia bebas dan merdeka untuk berbuat sesuatu yang diinginkan. Ia tidak bisa beruat lain karena ia yakin bahwa berbuat lain adalah suatu pelanggaran yang berakibat akan membinasakan dirinya. Di sinilah ia menemukan rasa tenteram.[5]

F. Manakah Agama yang Benar

Agama yang benar adalah agama monotheistis. Hal ini diperkuat oleh dua alas an. Pertama, alas an historis atau kesejarahan. Nabi-nabi sebagi manusia terpilih dan penghubung antara manusia dengan Tuhan, tidak ada yang mengajarkan bukan monotheisme. Kedua, alas an logika. Kalau Tuhan tidak Esa berarti mengurangi kekuasaanya.[6]

G. Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Mempelajari Agama

1. Scripture, naskah-naskah sumber ajaran dan symbol-simbol agama

2. Para penganut atau pemimpin dan pemuka agama, yakni sikap, perilaku, dan penghayatan para penganutnya

3. Ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris

4. Alat-alat, seperti masjid, gereja, dan lain sebagainya

5. Organisasi-organisasi keagamaan tempat para penganut atau pemimpin berkumpul dan berperan, seperti Muhammadiya, NU, dan lain sebagainya[7]

H. Kandungan-kandungan Agama Dunia

Sebenarnya semua agama di dunia Zini memiliki lima hal pokok yang sama, yaitu:

a. Cinta adalah jalan paling penting menuju Tuhan

b. Semua agama besar mengajarkan cara bertetangga dan bermasyarakat serta menjaga lingkungan

c. Jalan menuju Tuhan adalah universal yaitu kurban dan bersembahyang. Jalan keselamatan dimanapun juga dimulai dengan menyerahkan diri, etik disiplin diri sendiri dan bertapa

d. Realitas ketuhanan ini adalah cinta sejati yang mewujudkan dirinya dalam manusia kepada amnesia

e. Realitas itu bagi manusia kebaikan tertinggi, kebenaran tertinggi, Maha tinggi, Maha indah, Summum Bonum kata mistik Neo-Platonis.[8]

BAB II

KEBUDAYAAN MINANGKABAU

1. Identifikasi

Jika kita berbicara tentang suku Minangkabau dan kebudayaannya, sama halnya dengan berbicara tentang suku-suku bangsa yang lain di Indonesia. Daerah asal dari kebudayaan Minangkabau kira-kira seluas daerah Propinsi Sumatra Barat dengan dikurangi kepulauan Mentawai, tetapi dalam pandangan orang Minangkabau sendiri, daerah ini dibagi ke dalam pembagian yang khusus. Pembagian-pembagian khusus itu menyatakan pertentangan antara darek (darat) dan pasisie (pesisir).

Kebanyakan orang Minangkabau hidupnya merantau, hal itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, keinginan mereka untuk mendapatkan kekayaan tanpa menggunakan tanah-tanah yang telah ada. Kedua, perselisihan-perselisihan yang menyebabkan bahwa orang yang merasa dikalahkan akan meninggalkan kampung dan keluarga untuk menetap di tempat lain.

Orang Minangkabau dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Minangkabau, sebuah bahasa yang erat berhubungan dengan bahasa Melayu.

2. Bentuk Desa

Desa di Minangkabau bernama nagari. Bentuk desa di Minangkabau umumnya terdiri dari dua daerah utama, yaitu nagari dan taratak. Nagari adalah daerah kediaman utama dan dianggap pusat dari sebuah desa, berbeda halnya dengan taratak yang dianggap sebagai daerah hutan dan ladang.

3. Mata Pencaharian Hidup

Sebagian besar mata pencaharian orang Minangkabau berasal dari tanah. Di daerah yang subur dengan air yang cukup kebanyakan warganya bekerja di sawah, sedangkan pada daerah dataran tinggi banyak orang menanam sayur mayor untuk perdagangan.

Kehidupan perdagangan di Minangkabau hanya sedikit yang dipegang warga asing, rata-rata dipegang oleh warga asli Minangkabau. Perdagangan yang dikuasai oleh keturunan Cina bisa dikatakan terbatas pada sektor-sektor tertentu, seperti tukang cuci kemeja dan lain sebagainya.

4. Sistem Kekerabatan

Garis keturunan dalam masyarakat Minangkabau diperhitungkan menurut garis Matrilineal. Seorang ayah dealam keluarga Minangkabau termasuk keluarga lain dari keluarga istri dan anaknya, sama halnya dengan seorang anak dari seorang laki-laki akan termasuk keluarga lain dari ayahnya.

Pada masa dahulu ada adat bahwa orang laki-laki Minangkabau sedapat mungkin menikah dengan anak perempuan mamaknya, tetapi karena berbagai keadaan, timbul beberapa bentuk lain, misalnya menikah dengan kemenakan perempuan ayahnya. Orang Minangkabau juga boleh menikah dengan saudara perempuan isterinya sendiri, akan tetapi untuk zaman sekarang pola seperti ini sudah banyak ditinggalkan, dan disana yang melamar dan member uang jemputan itu bukan dari pihak laki-laki akan tetapi dari pihak perempuannnya, di Minangkabau mas kawin disebut dengan uang jemputan. Uang jemputan itu digunakan supaya sang laki-laki mau menikah dengan gadis yang melamarnya.

5. Sistem Kemasyarakatan

Stratifikasi sosial yang terjadi pada masyarakat Minangkabau terdapat tiga macam keadaan. Pertama, kalangan bangsawan. Dalam masyarakat Minangkabau kalangan bangsawan betul-betul mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Seorang laki-laki bangsawan, jika ia menikah mereka tidak perlu member belanja isterinya, bahkan untuk menikahi seorang gadis ia akan mendapatkan uang yang banyak sebagai uang jemputan. Ia dengan langsung dapat memperbaiki kedudukan sosial dari keluarga isterinya, karena anaknya akan lebih tinggi lapisan sosialnya daripada ibunya sendiri. Kedua, kalangan orang biasa, seperti pedagan, guru dan lain sebagainya. Sedangkan kalangan yang terakhir yaitu kalangan orang paling rendah, kalau dalam bahasa kasarnya disebut dengan sebutan budak.

6. Religi

Pada masyarakat Minangkabau mayoritas penduduknya adalah muslim, sekiranya ada orang Minangkabau yang tidak menganut agama Islam, maka hal itu dianggap sebagai suatu keganjilan, walaupun kebanyakan orang Minangkabau sendiri menganut agama hanya secara nominalnya saja tanpa melakukan ibadahnya saja. Mereka bisa dikatakan tidak mengenal unsur-unsur kepercayan lain kecuali apa yang diajarkan oleh Islam, akan tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga percaya kepada hal-hal yang bersifat ghaib dan takhayul. Hal itu dibuktikan dengan bahwa mereka juga ada yang mempercayai adanya puntianak.

Dalam masyarakat Minangkabau untuk saat ini, hampir tidak ada upacara-upacara keagamaan yang penting dan khas. Upacara-upacara keagamaaan yang penting bagi umum adalah shalat I’ed dan yang diajarkan menurut ajaran agama Islam. Walaupun demikian, dulu ada upacara-upacara keagamaan yang penting, misalnya upacara tabuik, upacara katam, dan upacara memperingati orang mati.

7. Modernisasi dan Akulturasi

Perang Padri yang terjadi pada permulaan abad ke-19 pada mulanya bermula dari pertentangan kaum lama dan kaum baru, ketika itu kaum baru melihat agam Islam yang dijalankan di Minangkabau telah menjadi satu dengan adat, sehingga telah kehilangan esensi dari Islam sendiri. Golongan-golongan baru yang begitu agresif dalam berjuang untuk memurnikan agama Islam akhirya bisa memodernisasi system sekolah agama yang ada, sehingga murid-murid juga diajarkan pengetahuan umum tidak hanya permasalahan agama saja.

Agama bagi mereka bukan lagi persoalan yang harus diterima begitu saja, tetapi hal yang boleh diperdebatkan. Proses perubahan ini berpengaruh terhadap keseluruhan sistem kemasyarakatan Minangkabau. Perjuangan kaum baru itulah yang merupakan salah satu dari aspek dari proses modernisasi di Minangkabau yang menyebabkan seorang anak dapat mewarisi kekayaan dari ayahnya. Hal ini juga berpengaruh terhadap makin hilangnya gejala endogami lokal dalam masyarakat Minangkabau.

8. Masalah-Masalah Pembangunan

Sampai saat ini, pembangunan yang berhasil dilaksanakan adalah pembangunan pendidikan. Hal itu dibuktikan dengan banyak berdirinya sekolah-sekolah di sana. Walaupun demikian kemajuan ini juga mempunyai dampak negatif, yaitu pengangguran terpelajar atau setengah menganggur. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, mereka berusaha untuk bekerja dengan makan gaji, dan kesempatan untuk hal ini dibilang sedikit sekali. Kedua, mereka tidak mau kembali ke desa dan kembali bekerja sebagai petani karena mereka beranggapan dengan bertani tidak dapat membuat hidup mereka menjadi seperti yang diimpikan.[9]

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen PAI UNY, Din al Islam, Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Yogyakarta, 2002

Effendi, johan, Cet IV, Februari 2002, Menemukan Makna Hidup, Jakarta, Media Cita

Mudzhar, atho. Cet III, Mei 2001:Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Djam’ annuri. Cet I, Oktober 2000: Agama Kita, Yogyakarta, Kurnia Kalam Semesta

Ningrat, koentjara. Cet XVI th 1997: Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Jakarta, Djambatan

Minggu, 22 Februari 2009

Kebanggaan Menyambut Sang Penjahat

Ada yang masygul dalam benak kita; mengapa pejabat di negeri ini begitu suka cita menyambut kedatangan Hillary Clinton, Menlu AS yang baru, yang datang ke Indonesia tanggal 18-19 Pebruari 2009? Sampai Mensesneg Hatta Rajasa di Kantor Setneg, Jl. Veteran, Jakarta, Kamis (5/2/2008) menyatakan, “Indonesia masuk dalam radar negara-negara besar yang patut diperhitungkan,”. Hatta pun tidak bisa menutupi kebanggaannya, “Kita diperhitungkan.” ujarnya.

Bukankah kita tahu, bahwa AS adalah negara penjajah, dengan semua definisi dan maknanya? AS bukan saja telah menjajah Afganistan dan Irak yang telah menewaskan ratusan ribu bahkan jutaan manusia, tetapi juga telah menjajah negeri kita. Bahkan, sudah banyak pakar dan intelektual di negeri ini yang mengatakan, bahwa negeri ini masih terjajah, dan penajajahnya itu tak lain adalah Kapitalisme Global yang dipimpin oleh AS. Lalu, mengapa para pejabat di negeri ini masih saja menyambut Menlu dari negara penjajah itu dengan suka cita, bahkan dengan penuh bangga? Apakah mereka tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa AS adalah negara penjajah dengan semua definisi dan maknanya? Inilah yang masygul dalam benak kita.

Memang betul, bahwa Indonesia adalah negara penting bagi kepentingan politik luar negeri AS. Terutama karena faktor Islam, jumlah penduduknya yang mayoritas Muslim, dan merupakan negara terbesar keempat setelah Cina, India dan AS sendiri, serta faktor kekayaan alamnya yang melimpah. Dalam pernyataan persnya di Washington, Jubir Deplu AS, Robert Wood, menyatakan, “Indonesia merupakan negara penting bagi AS. Menlu Hillary merasa penting bahwa kami ingin mencapai itu dan mencapai lebih awal dengan Indonesia,” kata Wood, “Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.” ujarnya. Iya, Indonesia memang negara Muslim terbesar di dunia, tetapi bukan itu yang membuat Menlu AS harus berkunjung ke Indonesia pertama kali. Karena, dalam sejarahnya, kawasan Timur Tengahlah yang biasanya menjadi langganan kunjungan Menlu AS yang baru. Namun, kali ini tidak. Pertanyaan ada apa sebenarnya? Inilah yang harus kita dicermati bersama.

Selama ini, kawasan Timur Tengah memang menjadi langganan kunjungan pertama kali Menlu AS, terutama karena kawasan ini merupakan koloni AS, setelah AS berhasil membersihkan pengaruh Inggeris dan Perancis dari kawasan tersebut. Juga karena faktor minyak, Islam dan Israel. Namun, setelah pendudukan AS di Irak 2003 yang berhasil melenyapkan pengaruh Inggeris di kawasan tersebut, maka AS tidak lagi mendapatkan ancaman yang berarti dari pesaing politiknya di kawasan itu. Sebaliknya, di Timur Jauh, yang diwakili oleh Indonesia dan Malaysia, dengan perkembangan Islam dan meningkatnya kesadaran umat Islam untuk kembali kepada syariah agama mereka, sebagaimana yang ditunjukkan oleh berbagai hasil survei, tentu ini bisa menjadi ancaman potensial bagi penjajahan AS di kawasan tersebut. Di mata AS, meningkatnya kesadaran umat Islam itu akan mengancam nilai-nilai mereka, antara lain, seperti Demokrasi, HAM, Pluralisme, Kebebasan dan Kesetaraan Gender, yang pada akhirnya akan menggulung tradisi penjajahan mereka di negeri ini. Inilah yang bisa kita simak dari pernyataan Hillary, dalam dengar pendapat di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (13/1/2009), bahawa dirinya akan bekerja “memperbarui kepemimpinan Amerika melalui diplomasi yang akan meningkatkan keamanan kita, mengedepankan kepentingan kita, dan mencerminkan nilai-nilai kita”. Jadi, tujuan utama dari berbagai kunjungan Menlu AS tersebut tak lain adalah untuk memperbarui kepemimpinan AS di dunia.

Memang ini tidak mudah bagi AS, terutama setelah berkembangnya opini negatif tentang AS, bukan saja di dunia Islam tetapi juga di negara-negara Barat. Terlebih, di dalam negeri, AS saat ini tengah menghadapi resesi ekonomi yang sangat parah. Dalam konteks ekonomi AS, Indonesia bukan saja telah dan akan menjadi pasar potensial bagi produk AS, tetapi Indonesia juga menjadi sumber bahan-bahan baku dan suplay energi bagi industri AS. Inilah yang ingin dipertahankan oleh AS. Karena itu, di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (13/1/2009), Hillary menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam memecahkan masalah krisis ekonomi global.

Selain faktor-faktor di atas, yang harus dicermati adalah, bahwa kunjungan ini dilakukan pada saat menjelang Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009. Dalam agenda kunjungannya, Menlu AS itu juga direncanakan akan bertemu sejumlah tokoh dan politisi di negeri ini . Maka, kunjungan ini juga secara telanjang bisa dibaca sebagai upaya AS untuk memastikan dukungannya, sekaligus terpilihnya tokoh dan politisi yang bisa menjamin kepentingannya di negeri ini.

Pertanyaannya, jika demikian apa yang akan didapat oleh negeri Muslim terbesar ini? Jawabannya tentu bukan apa-apa. Iya, negeri ini memang tidak akan mendapatkan apa-apa, selain keburukan demi keburukan, baik bagi Islam maupun kaum Muslim, yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini. Kalau pun tampak ada kebaikan, sesungguhnya itu hanyalah lips service dan make up saja. Sebab, penjajah tetap saja penjajah. Terlebih jika diberi peluang dan kesempatan. Jikalau ada perubahan pada kebijakan luar negeri AS di era Obama, itu hanyalah perubahan pendekatan, tetapi substansinya tetap sama, yaitu mempertahankan hegemoni dan penjajahan atas dunia. Atau bahasa halusnya, “memperbarui kepemimpinan AS di dunia.” Jadi, yang berubah hanya pendekatannya, dari hard power, melalui invasi dan pendudukan, menjadi smart power, dengan “diplomasi” dan “membangun hubungan kemitraan”.

Selain Indonesia akan tetap terjajah, negeri Muslim terbesar ini juga akan digunakan sebagai alat oleh AS untuk memasarkan nilai-nilai Demokrasi, HAM, Kebebasan dan Pluralisme ke negeri-negeri Muslim yang lain, yang telah diklaim kompatibel dengan Islam. Indonesia juga akan digunakan sebagai alat untuk memuluskan rancangan AS di Timur Tengah, tentang pendirian dua negara, Israel dan Palestina yang meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam pernyataannya, Hillary (Rabo, 4/2/2009) berjanji akan bekerja sama dengan semua pihak untuk “menciptakan negara Palestina yang independen dan dapat berjalan di Tepi Barat dan Gaza, serta memberikan perdamaian dan keamanan yang diminta Israel.” Inilah yang tampaknya ingin dimainkan oleh Indonesia melalui Proposal Perdamaian Palestina, sebagaimana yang mengemuka dalam pertemuan antara Wapres Jusuf Kalla dan Joe Biden, Wapres AS (Rabo, 4/2/2009).

Akhirnya kenyataan ini mengingatkan kita akan hadits Nabi, “Idza dhuyyi’at al-amanah fantadhir as-sa’ah.” (Jika amanah ini telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya). Sahabat bertanya, “Fakaifa idha’atuha ya Rasula-Llah?” (Lalu, bagaimana bentuk disia-siakannya amanah itu, ya Rasulullah?) Nabi menjawab, “Idza usnida al-amru ila ghairi ahlihi fantadhiri as-sa’ah.” (Jika urusan itu diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.) al-Kirmani menjelaskan, urusan yang dimaksud di sini adalah Khilafah, pemerintahan, peradilan, fatwa dan sebagainya, yang terkait dengan agama. Jika urusan ini diserahkan kepada orang Sekular, yang bukan ahli agama, maka urusan ini pasti akan disia-siakan.

Jatuhnya Palestina, Irak, Afganistan dan Kashmir ke tangan penjajah, serta dikurasnya kekayaan alam dan penjajahan di negeri-negeri kaum Muslim, termasuk Indonesia, adalah contoh nyata disia-siakannya amanah Allah. Karena para penguasanya adalah orang-orang Sekular yang dijadikan sebagai penguasa untuk melestarikan kepentingan tuan-tuan mereka, dengan mempertahankan sistem Sekularisme mereka. Fal’iyadzu billah min syarri fitnatihim

editorial HTI.or.id (H.A)

Sabtu, 21 Februari 2009

PR dan CSR

*

Publik Relation merupakan fungsi manajemen yang membentuk dan memelihara hubungan yang

saling menguntungkan antara organisasi dan masyarakat, yang menjadi sandaran keberhasilan atau

kegagalanya. ( Public Relation Society of Amerika)

Prinsip-prinsip CSR :

(1) CSR sifatnya sukarela;

(2) CSR melebihi peraturan-peraturan yang ada;

(3) CSR adalah mengenai persoalan sosial dan lingkungan di dalam praktek utama bisnis, seperti pengelolaan lingkungan, standar buruh, hubungan dengan konsumen yang adil dan lainnya;

(4) CSR bukanlah sebuah sumbangan atau filantropi. Dorongan paling penting adalah skenario saling menguntungkan bagi bisnis dan stakeholder-nya;

(5) CSR sebuah komplemen bukan pengganti peraturan-peraturan

Manfaat dari program CSR bagi perusahaan di Indonesia :

CSR akan menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan.