A. Definisi Agama
Para ahli sejarah agama-agama sedunia sependapat bahwa yang dimaksud dengan agam adalah salah satu bentuk upacara dari suatu kepercayaan dengan menggunakan cara dan bahasa yang tidak sama. Namun demikian, apa yang dijabarkan oleh para ahli sejarah tersebut masih dapat ditinjau dari segi etimologi dan terminologinya.
Secara etimologis agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang terdiri atas dua kata: “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau atau berantakan. Agama adalah suatu yang tidak kacau. Dengan kata lain bahwa agama itu membawa hidup yang teratur dan terarah.
Dalam bahasa Inggris agama disebut “religion” yang berasal dari bahasa Latin yang berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian. Perbuatan yang dimaksud dimaksud di sini adalah berupa usaha atau sejenis peribadatan yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mendekati sesuatu yang ghaib. Ada yang berpendapat bahwa “religion” berasal dari kata “religare” yang berarti mengikat menjadi satu atau perikatan bersama. Agama dalam hal ini merupakan ikatan orang-orang suci yang bebas dari dosa atau berusaha untuk membebaskan diri dari dosa.
B. Macam-Macam Agama
Agama dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu agama samawiyah (agama langit atau agama wahyu) dan agama ardhiyah (agama bumi atau agama budaya). Agama samawiyah disebut juga sebagai agama tauhid, yang berasal dari kata wahhada yang berarti menganggap satu. Agama Samawiyah merupakan agama yang pertama di dunia yang di bawa oleh Nabi Adam AS sampai yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama Samawiyah yang dibawa ole semua nabi sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad muatan pesan ajarannya sama, yakni Tauhid. Tauhid adalah ajaran yang mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan dasar hukum yang bersumberkan kepada wahyu Allah SWT.
Agama Ardhiyah ialah agama bumi atau agama budaya. Agama ini disebut Ardhiyah karena semua konsep ajarannya dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Oleh karena itu, walaupun nama agamanya sama tetapi dalam pelaksanaan ritualnya berbeda, karena disesuaikan dengan budaya setempat. Agama Ardhiyah tidak memiliki nabi atau rasul sebagaimana agama Samawiyah, dan tidak memiliki kitab suci yang murni. Kitab suci yang ada hanyalah susunan dari para pemimpin atau pendiri agama tersebut yang dari waktu ke waktu akan berubah seiring dengan perkembangan waktu dan budaya.
C. Tujuan atau Alasan Manusia Harus Beragama
1. Tujuan Hidup
Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kamu sekalian secara sia-sia?”(Qc. Al-Furqan: 115). Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap penciptaan pasti ada konsekuensinya. Tegasnya, ada akibat lanjut dari kehidupan ini. Sebenarnya manusia ketika lahir itu diberi kekuasaan atau kebebasan dalam memilih jalan hidupnya, ada jalan yang benar adapula jalan yang salah tergantung pilihan kita ada di mana, begitupula dengan agama. Oleh karena itu, manusia harus mempunyai agama supaya manusia itu mempunyai tujuan dan hidupnya itu terarah tidak seenaknya saja.
2. Akhir Segalanya
Karl Marx anak seorang rahib Yahudi yang kemudian terkenal menjadi pemuka kaum Atheis. Sepanjang hidupnya, ia selalu berusaha menghapus nama Tuhan dari kehidupan manusia. Namun, tatkala dalam keadaan sekarat dan ajal hamper menjemputnya, ia menjerit-jerit menyebut nama Tuhan. Suatu kontras kehidupan yang membuat kesadaran tentang Tuhan bukan lagi permainan logika, bukan pula karena kebutuhan ekonomi, dan kecerdasan politik, melainkan sebuah fitrah manusia terhadap kehidupan itu sendiri.
Dari cerita di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa setelah hidup ini ada kelanjutannya, bahkan Karl Marx yang begitu tidak mengakui adanya Tuhan ketika ajal akan menjemputnya dia menyebut-nyebut nama Tuhan, karena setelah kematian itu masih ada kehidupan maka, kita harus mempersiapkannya dari sekarang.
D. Kodrat Manusia Beragama
Inti dari beragama itu adalah keyakinan atau kepercayaan akan adanya Zat Yang Ghai, Zat Yang Maha Besar, yang KepadaNya manusia menggantungkan diri mohon pertolongan. Adapun fenomena yang akan membuktikan bahwa naluri manusia atau kodrat manusia itu beragama adalah:
1. Tentang doa keselamatan
Setiap orang pasti ingin mendapatkan keselamatan. Ia merasa dirinya selalu terancam. Makin serius ancamannya, doanya akan makin serius pula.
2. Tentang kebahagiaan abadi
Setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang ia harapkan bukanlah kebahagiaan yang sementara tetapi kebahagiaan abadi.
3. Apaila kita mendapatkan persoalan yang dilematis
Orang hidup itu seringkali dihadapkan kepada beragai perbuatan yang harus dipilih. Dia memeras otak, mempertimbangkan untung rugi, dan aspek-aspek lain yang akhirnya dapat menentukan keputusannya.
Dari semua masalah di atas menunjukkan bahwa manusia secara naluriah membutuhkan agama dan adanya kepercayaan adanya Zat Yanag Ghaib.
E. Gambaran Manusia Beragama
Gambaran pokok manusia beragama adalah penyerahan diri. Ia menyerahkan diri kepada sesuatu yang Maha Ghaib lagi Maha Agung. Ia tunduk dan patuh dengan rasa hormat dan khidmat. Ia berdoa, bersembahyang, dan berpuasa sebagai hubungan vertical(hablumminallah) dan juga berbuat suatu kebaikan untuk kepentingan sesame umat manusia(hablumminannas), karena ia percaya bahwa semua itu diperintahkan oleh Zat Yang Maha Ghaib.
Penyerahan diri manusia itu bersifat bebas dan merdeka. Dengan rasa kesadaran dan kemerdekaan ia memeluk agama dan menjalankan peraturan-peraturan yang ia anggap dari Zat Yang Maha Ghaib itu. Dia merdeka bukan berarti ia bebas dan merdeka untuk berbuat sesuatu yang diinginkan. Ia tidak bisa beruat lain karena ia yakin bahwa berbuat lain adalah suatu pelanggaran yang berakibat akan membinasakan dirinya. Di sinilah ia menemukan rasa tenteram.
F. Manakah Agama yang Benar
Agama yang benar adalah agama monotheistis. Hal ini diperkuat oleh dua alas an. Pertama, alas an historis atau kesejarahan. Nabi-nabi sebagi manusia terpilih dan penghubung antara manusia dengan Tuhan, tidak ada yang mengajarkan bukan monotheisme. Kedua, alas an logika. Kalau Tuhan tidak Esa berarti mengurangi kekuasaanya.
G. Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Mempelajari Agama
1. Scripture, naskah-naskah sumber ajaran dan symbol-simbol agama
2. Para penganut atau pemimpin dan pemuka agama, yakni sikap, perilaku, dan penghayatan para penganutnya
3. Ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris
4. Alat-alat, seperti masjid, gereja, dan lain sebagainya
5. Organisasi-organisasi keagamaan tempat para penganut atau pemimpin berkumpul dan berperan, seperti Muhammadiya, NU, dan lain sebagainya
H. Kandungan-kandungan Agama Dunia
Sebenarnya semua agama di dunia Zini memiliki lima hal pokok yang sama, yaitu:
a. Cinta adalah jalan paling penting menuju Tuhan
b. Semua agama besar mengajarkan cara bertetangga dan bermasyarakat serta menjaga lingkungan
c. Jalan menuju Tuhan adalah universal yaitu kurban dan bersembahyang. Jalan keselamatan dimanapun juga dimulai dengan menyerahkan diri, etik disiplin diri sendiri dan bertapa
d. Realitas ketuhanan ini adalah cinta sejati yang mewujudkan dirinya dalam manusia kepada amnesia
e. Realitas itu bagi manusia kebaikan tertinggi, kebenaran tertinggi, Maha tinggi, Maha indah, Summum Bonum kata mistik Neo-Platonis.
BAB II
KEBUDAYAAN MINANGKABAU
1. Identifikasi
Jika kita berbicara tentang suku Minangkabau dan kebudayaannya, sama halnya dengan berbicara tentang suku-suku bangsa yang lain di Indonesia. Daerah asal dari kebudayaan Minangkabau kira-kira seluas daerah Propinsi Sumatra Barat dengan dikurangi kepulauan Mentawai, tetapi dalam pandangan orang Minangkabau sendiri, daerah ini dibagi ke dalam pembagian yang khusus. Pembagian-pembagian khusus itu menyatakan pertentangan antara darek (darat) dan pasisie (pesisir).
Kebanyakan orang Minangkabau hidupnya merantau, hal itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, keinginan mereka untuk mendapatkan kekayaan tanpa menggunakan tanah-tanah yang telah ada. Kedua, perselisihan-perselisihan yang menyebabkan bahwa orang yang merasa dikalahkan akan meninggalkan kampung dan keluarga untuk menetap di tempat lain.
Orang Minangkabau dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Minangkabau, sebuah bahasa yang erat berhubungan dengan bahasa Melayu.
2. Bentuk Desa
Desa di Minangkabau bernama nagari. Bentuk desa di Minangkabau umumnya terdiri dari dua daerah utama, yaitu nagari dan taratak. Nagari adalah daerah kediaman utama dan dianggap pusat dari sebuah desa, berbeda halnya dengan taratak yang dianggap sebagai daerah hutan dan ladang.
3. Mata Pencaharian Hidup
Sebagian besar mata pencaharian orang Minangkabau berasal dari tanah. Di daerah yang subur dengan air yang cukup kebanyakan warganya bekerja di sawah, sedangkan pada daerah dataran tinggi banyak orang menanam sayur mayor untuk perdagangan.
Kehidupan perdagangan di Minangkabau hanya sedikit yang dipegang warga asing, rata-rata dipegang oleh warga asli Minangkabau. Perdagangan yang dikuasai oleh keturunan Cina bisa dikatakan terbatas pada sektor-sektor tertentu, seperti tukang cuci kemeja dan lain sebagainya.
4. Sistem Kekerabatan
Garis keturunan dalam masyarakat Minangkabau diperhitungkan menurut garis Matrilineal. Seorang ayah dealam keluarga Minangkabau termasuk keluarga lain dari keluarga istri dan anaknya, sama halnya dengan seorang anak dari seorang laki-laki akan termasuk keluarga lain dari ayahnya.
Pada masa dahulu ada adat bahwa orang laki-laki Minangkabau sedapat mungkin menikah dengan anak perempuan mamaknya, tetapi karena berbagai keadaan, timbul beberapa bentuk lain, misalnya menikah dengan kemenakan perempuan ayahnya. Orang Minangkabau juga boleh menikah dengan saudara perempuan isterinya sendiri, akan tetapi untuk zaman sekarang pola seperti ini sudah banyak ditinggalkan, dan disana yang melamar dan member uang jemputan itu bukan dari pihak laki-laki akan tetapi dari pihak perempuannnya, di Minangkabau mas kawin disebut dengan uang jemputan. Uang jemputan itu digunakan supaya sang laki-laki mau menikah dengan gadis yang melamarnya.
5. Sistem Kemasyarakatan
Stratifikasi sosial yang terjadi pada masyarakat Minangkabau terdapat tiga macam keadaan. Pertama, kalangan bangsawan. Dalam masyarakat Minangkabau kalangan bangsawan betul-betul mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Seorang laki-laki bangsawan, jika ia menikah mereka tidak perlu member belanja isterinya, bahkan untuk menikahi seorang gadis ia akan mendapatkan uang yang banyak sebagai uang jemputan. Ia dengan langsung dapat memperbaiki kedudukan sosial dari keluarga isterinya, karena anaknya akan lebih tinggi lapisan sosialnya daripada ibunya sendiri. Kedua, kalangan orang biasa, seperti pedagan, guru dan lain sebagainya. Sedangkan kalangan yang terakhir yaitu kalangan orang paling rendah, kalau dalam bahasa kasarnya disebut dengan sebutan budak.
6. Religi
Pada masyarakat Minangkabau mayoritas penduduknya adalah muslim, sekiranya ada orang Minangkabau yang tidak menganut agama Islam, maka hal itu dianggap sebagai suatu keganjilan, walaupun kebanyakan orang Minangkabau sendiri menganut agama hanya secara nominalnya saja tanpa melakukan ibadahnya saja. Mereka bisa dikatakan tidak mengenal unsur-unsur kepercayan lain kecuali apa yang diajarkan oleh Islam, akan tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga percaya kepada hal-hal yang bersifat ghaib dan takhayul. Hal itu dibuktikan dengan bahwa mereka juga ada yang mempercayai adanya puntianak.
Dalam masyarakat Minangkabau untuk saat ini, hampir tidak ada upacara-upacara keagamaan yang penting dan khas. Upacara-upacara keagamaaan yang penting bagi umum adalah shalat I’ed dan yang diajarkan menurut ajaran agama Islam. Walaupun demikian, dulu ada upacara-upacara keagamaan yang penting, misalnya upacara tabuik, upacara katam, dan upacara memperingati orang mati.
7. Modernisasi dan Akulturasi
Perang Padri yang terjadi pada permulaan abad ke-19 pada mulanya bermula dari pertentangan kaum lama dan kaum baru, ketika itu kaum baru melihat agam Islam yang dijalankan di Minangkabau telah menjadi satu dengan adat, sehingga telah kehilangan esensi dari Islam sendiri. Golongan-golongan baru yang begitu agresif dalam berjuang untuk memurnikan agama Islam akhirya bisa memodernisasi system sekolah agama yang ada, sehingga murid-murid juga diajarkan pengetahuan umum tidak hanya permasalahan agama saja.
Agama bagi mereka bukan lagi persoalan yang harus diterima begitu saja, tetapi hal yang boleh diperdebatkan. Proses perubahan ini berpengaruh terhadap keseluruhan sistem kemasyarakatan Minangkabau. Perjuangan kaum baru itulah yang merupakan salah satu dari aspek dari proses modernisasi di Minangkabau yang menyebabkan seorang anak dapat mewarisi kekayaan dari ayahnya. Hal ini juga berpengaruh terhadap makin hilangnya gejala endogami lokal dalam masyarakat Minangkabau.
8. Masalah-Masalah Pembangunan
Sampai saat ini, pembangunan yang berhasil dilaksanakan adalah pembangunan pendidikan. Hal itu dibuktikan dengan banyak berdirinya sekolah-sekolah di sana. Walaupun demikian kemajuan ini juga mempunyai dampak negatif, yaitu pengangguran terpelajar atau setengah menganggur. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, mereka berusaha untuk bekerja dengan makan gaji, dan kesempatan untuk hal ini dibilang sedikit sekali. Kedua, mereka tidak mau kembali ke desa dan kembali bekerja sebagai petani karena mereka beranggapan dengan bertani tidak dapat membuat hidup mereka menjadi seperti yang diimpikan.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen PAI UNY, Din al Islam, Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Yogyakarta, 2002
Effendi, johan, Cet IV, Februari 2002, Menemukan Makna Hidup, Jakarta, Media Cita
Mudzhar, atho. Cet III, Mei 2001:Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Djam’ annuri. Cet I, Oktober 2000: Agama Kita, Yogyakarta, Kurnia Kalam Semesta
Ningrat, koentjara. Cet XVI th 1997: Manusia dan Kebudayaan di Indonesia: Jakarta, Djambatan