Jika diibaratkan kita sedang berlayar ditengah lautan kemudian diombang- ambingkan oleh debur ombak dan badai, sementara kompas yang menjadi satu- satunya penunjuk arah rusak, maka kita akan terombang- ambing tanpa tahu kemana kita berjalan dan dimana kita akan berhenti. Bahkan lebih parah dari itu, kita akan ditelan air laut dan tubuh kita terkoyak oleh liarnya dunia bawah laut.
Begitu juga dengan organisasi, ketika organisasi tidak mempunyai tujuan yang jelas dan strategi yang tepat, kita akan terjebak pada rutinitas sehingga organisasi akan mengalami stagnasi/ kejumudan gerakan. Bukannya karya yang akan kita dapatkan, tapi lelah, capek, dan kebingungan yang akan kita rasakan. Tentunya teman- teman tidak mau kalau ini semua terjadi.
44 tahun (1964- 2008) bukan waktu yang sebentar bagi perjalanan sebuah organisasi, berbagai macam gejolak problematika dan dinamika pasti pernah dirasakan. Tapi adakah jaminan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari itu semua? Adakah perubahan yang terjadi dalam kepemimpinan kita? Ataukah kita hanya sebagai ahli waris yang cuma bisa meneruskan, tapi tidak bisa berbuat lebih baik?
Pengalaman adalah guru terbaik, dan terjatuh pada lubang yang sama adalah perbuatan yang bodoh. Jika kita peka dengan keadaan, sebenarnya ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari rutinitas pergantian kepemimpinan beserta model kepemimpinan yang mengiringinya. Jika berhasil maka kita tiru dan kembangkan, tapi jika gagal, strategi apa yang harus kita benahi dan kita rubah.
Jika kita tidak mau tergelincir pada lobang yang sama, maka kita perlu melakukan identifikasi dan menentukan solusi yang tepat sasaran.
Setidaknya ada lima masalah yang bisa menghambat kemajuan organisasi.
1. Kekurang pahaman anggota terhadap ideologi muhammadiyah.
2. Militansi kader.
3. Program yang tidak fungsional/ tidak sesuai dengan need assessment.
4. Ukhuwah/ hubungan emosinal yang rendah.
5. Kaderisasi.
Untuk itu ada 5 (lima) permasalahan yang harus kita garap:
1. Penanaman ideology.
2. Menumbuhkan Militansi kader.
3. Mengeratkan ukhuwah.
4. Menumbuhkan kesadaran pentingnya intelektualitas.
5. Kaderisasi yang bisa menanamkan rasa memiliki terhadap IMM.
Dari pemaparan diatas, saya merumuskan visi dan misi:
VISI :
Membangun kader IMM yang berideologi, militan dan berpengatahuan yang dilandasi rasa ukhuwah antarkader dengan semangat iman dan taqwa
MISI :
1. Peneguhan ideologi dalam diri kader
2. Membangun militansi kader
3. Meningkatkan ukhuwah antar kader
4. Mengembangkan ilmu pengetahuan
5. Menciptakan kader yang memiliki integritas intelektual dan moral
Tanggapan teman- teman terhadap masalah ini?
Solusi dari teman- teman?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar